27 September 2026

Inovasi Multimedia Antarkan Herfen Suryati Raih Juara II National Innovative Teacher Competition 2008Koran Kaltim

Koran Kaltim — Selasa, 12 Agustus 2008

Inovasi Multimedia Antarkan Herfen Suryati Raih Juara II National Innovative Teacher Competition 2008

Kejenuhan siswa kerap menjadi tantangan dalam proses pembelajaran di kelas. Berangkat dari persoalan tersebut, Herfen Suryati berinovasi mengembangkan sistem pembelajaran berbasis multimedia yang mampu membantu siswa memahami konsep-konsep biologi yang abstrak menjadi lebih konkret, menarik, dan mudah dipahami.

Inovasi pembelajaran tersebut mengantarkan Herfen Suryati meraih Juara II National Innovative Teacher Competition (NITC) 2008, sebuah ajang yang diselenggarakan oleh Microsoft Indonesia di Yogyakarta pada 22–27 Juli 2008.

Karya yang dipresentasikan berupa multimedia pembelajaran mandiri dalam bentuk CD dengan materi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity). Multimedia tersebut dikembangkan menggunakan Microsoft PowerPoint dan dirancang sedemikian rupa agar siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga dapat berinteraksi dengan materi pembelajaran melalui berbagai animasi dan permainan edukatif.

Inovasi tersebut ternyata mendapat respons positif dari para siswa di SMA YPVDP Bontang, tempat Herfen mengajar. Pendekatan pembelajaran berbasis multimedia kemudian menjadi salah satu paradigma pembelajaran yang terus ia terapkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

“Saat ini, jika pembelajaran konsep biologi hanya mengandalkan pola pembelajaran konvensional, terutama pada konsep-konsep yang abstrak, akan sangat sulit bagi siswa untuk memahaminya. Hal tersebut justru dapat meningkatkan kejenuhan siswa dalam belajar,” ungkap Herfen ketika ditemui di sela-sela kegiatan Demo Science yang diikuti 2.700 pelajar se-Kota Bontang, Senin.

Menurutnya, multimedia pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya berisi materi dan penjelasan, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai permainan edukatif. Permainan tersebut diadaptasi dari sejumlah permainan yang sudah ada, kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan materi pembelajaran.

Salah satunya adalah permainan untuk mengenali keanekaragaman manusia berdasarkan karakteristik bentuk wajah. Selain itu, siswa juga diajak mengenali keanekaragaman hayati pada tingkat gen, jenis, dan ekosistem melalui animasi dan permainan interaktif.

Dengan pendekatan tersebut, proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih menarik dan menyenangkan.

“Bahkan, waktu dua jam pembelajaran tidak terasa cepat berlalu,” ujarnya.

Mengubah Konsep Abstrak Menjadi Lebih Konkret

Materi biodiversitas yang dikembangkan Herfen merupakan konsep yang menjelaskan keanekaragaman makhluk hidup pada tingkat gen, jenis, dan ekosistem. Materi tersebut juga mencakup keanekaragaman hayati Indonesia, peranan dan manfaat keanekaragaman hayati, serta berbagai upaya pelestariannya.

Multimedia pembelajaran tersebut diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan.

Dalam proses pengembangannya, Herfen banyak memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran biologi dari internet, terutama sebagai referensi untuk mengembangkan animasi dan latar multimedia. Ia juga tidak bekerja sendiri.

“Saya banyak mengadopsi model-model pembelajaran dari website pembelajaran biologi di internet, terutama untuk animasi dan background multimedia yang saya buat. Selain itu, saya juga banyak bertanya kepada teman-teman yang memiliki kemampuan IT yang lebih tinggi,” tuturnya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu lahir dari penguasaan teknologi yang sempurna sejak awal. Kemauan untuk belajar, mencoba, berkolaborasi, dan memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan justru menjadi bagian penting dari proses inovasi seorang guru.

Berawal dari 300 Peserta

Perjalanan Herfen dalam mengikuti kompetisi tersebut bukan tanpa tantangan. Dari sekitar 300 peserta yang mengirimkan karya multimedia pembelajaran, terpilih 30 semifinalis yang kemudian diundang oleh Microsoft untuk mengikuti rangkaian kompetisi di Yogyakarta.

Herfen mengaku sempat merasa kurang percaya diri ketika berada di antara para semifinalis.

“Saya sempat tidak percaya diri. Dari 30 semifinalis yang diundang Microsoft, teman-teman yang lain memiliki kemampuan komputer yang luar biasa.”

Namun, rasa tidak percaya diri tersebut tidak membuatnya mundur. Sebaliknya, ia tetap mengikuti seluruh tahapan kompetisi dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan karena telah berhasil melewati tahap awal dan menyisihkan ratusan peserta lainnya.

Proses penjurian berlangsung dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, peserta mengikuti seleksi untuk menentukan 10 besar dari 30 semifinalis. Para peserta diminta menyusun proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikerjakan di laboratorium komputer Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Proposal tersebut kemudian dikirimkan melalui surat elektronik kepada panitia NITC.

Pada tahap kedua, para finalis mempresentasikan karya mereka di hadapan dewan juri untuk menentukan peringkat Juara I, II, III serta Juara Harapan I, II, dan III.

Sebelum memasuki tahap penjurian, para finalis juga mendapatkan pembekalan mengenai multimedia pembelajaran dan penelitian tindakan kelas.

Persaingan berlangsung ketat. Setelah melalui seluruh rangkaian penilaian dan presentasi, dewan juri akhirnya menetapkan Herfen Suryati sebagai Juara II National Innovative Teacher Competition 2008.

Terus Berinovasi

Prestasi tersebut tidak membuat Herfen berhenti berinovasi. Justru pencapaian itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai seorang pendidik untuk terus mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan teknologi.

Setelah kompetisi di Yogyakarta, Herfen masih harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang kompetisi Microsoft tingkat berikutnya di Kuala Lumpur, Malaysia, yang direncanakan berlangsung pada Februari tahun berikutnya.

Di akhir pembicaraan, Herfen menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra (YPVDP) dan PT Badak yang telah memberikan dukungan sehingga dirinya dapat mengikuti kompetisi dan meraih prestasi tersebut.

Sebuah Catatan dari Perjalanan Seorang Guru

Jika dibaca kembali bertahun-tahun kemudian, berita ini bukan sekadar catatan tentang sebuah penghargaan. Lebih dari itu, ia merekam sebuah gagasan sederhana tetapi penting: guru yang melihat kejenuhan siswa sebagai persoalan akan terdorong mencari jalan keluar.

Teknologi pada akhirnya bukan tujuan. Multimedia, animasi, permainan, dan komputer hanyalah alat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seorang guru mampu mengubah alat tersebut menjadi pengalaman belajar yang membuat siswa lebih mudah memahami, lebih tertarik untuk belajar, dan lebih berani mengeksplorasi pengetahuan.

Prestasi Juara II NITC 2008 menjadi salah satu bukti bahwa inovasi pendidikan dapat berawal dari ruang kelas—dari kegelisahan seorang guru melihat siswanya kesulitan memahami konsep, kemudian mengubah kegelisahan itu menjadi kreativitas, mencoba sesuatu yang baru, dan akhirnya menghasilkan sebuah karya.

Karena sesungguhnya, inovasi seorang guru tidak selalu dimulai dari teknologi yang canggih. Ia sering kali dimulai dari satu pertanyaan sederhana: “Bagaimana agar siswa saya lebih mudah memahami dan lebih senang belajar?”

"Pengebirian Prestasi" Sekelumit Catatan Seorang Guru

“Pengebirian Prestasi” : Sekelumit Catatan Seorang Guru 

Ketika mendengar kata “prestasi”, gambaran yang muncul biasanya adalah kebanggaan, decak kagum, penghargaan, atau pujian. Prestasi seolah menjadi simbol keberhasilan seseorang dalam mencapai sesuatu melalui kemampuan, kerja keras, dan usaha yang sungguh-sungguh.

Menurut Gufron Gozali, prestasi adalah sesuatu yang dapat diraih oleh siapa saja, asalkan ada kemauan dan usaha yang cerdas. Sementara itu, Meidian memandang prestasi dalam makna yang lebih luas. Baginya, prestasi bukan semata-mata tentang keberhasilan pribadi, melainkan juga tentang sejauh mana keberhasilan tersebut memberikan kontribusi dan kemanfaatan bagi masyarakat serta mampu mengharumkan nama daerah dan bangsa.

Dengan demikian, seseorang yang menjadi juara kelas, memenangkan lomba menyanyi, atau memperoleh penghargaan tertentu memang telah menunjukkan keberhasilan. Namun, dalam perspektif yang lebih luas, prestasi akan memiliki makna yang jauh lebih dalam ketika keberhasilan tersebut tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain.

Ada sebuah ungkapan yang sangat populer di tengah masyarakat:

Khairunnās anfa‘uhum linnās
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Ungkapan tersebut sering digunakan untuk menggambarkan bahwa nilai sebuah keberhasilan tidak hanya terletak pada pencapaian pribadi, tetapi juga pada kemanfaatannya bagi sesama.

Lalu, bagaimana dengan istilah “pengebirian”?

Ketika mendengar kata tersebut, kesan yang muncul adalah sesuatu yang dipotong, dikurangi, dihentikan, atau dihilangkan kekuatannya. Dalam konteks hak, misalnya, “pengebirian hak” dapat dimaknai sebagai tindakan mengurangi, membatasi, atau menghilangkan hak seseorang yang semestinya dapat diperoleh.

Di sinilah kemudian muncul pertanyaan: apa hubungan antara prestasi dan pengebirian?

Secara harfiah, kedua kata tersebut tentu tidak memiliki hubungan langsung. Namun, ketika keduanya dirangkai menjadi satu frasa—“pengebirian prestasi”—muncullah makna yang berbeda dan cukup menarik untuk direnungkan.

Ada perbedaan nuansa antara “pengebirian prestasi” dan “prestasi dikebiri”.

“Pengebirian prestasi” lebih menggambarkan sebuah proses. Bukan prestasi yang secara terang-terangan dilarang, melainkan suatu keadaan atau sistem yang secara perlahan membatasi ruang gerak seseorang untuk berkembang dan berprestasi. Dukungan dikurangi, kesempatan dipersempit, kreativitas dibatasi, dan berbagai aturan mungkin dibuat sedemikian rupa sehingga seseorang akhirnya kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi terbaiknya.

Proses itu bisa berlangsung perlahan. Tidak selalu terlihat sebagai sebuah larangan. Bahkan mungkin dibungkus dengan berbagai alasan yang secara administratif tampak masuk akal. Namun, jika terus berlangsung, dampaknya bisa sama: semangat berprestasi perlahan padam.

Berbeda dengan istilah “prestasi dikebiri”. Ungkapan ini terdengar lebih tegas dan lebih langsung. Seolah-olah ada pesan yang jelas: “Prestasi tidak perlu ada di sini.” Tidak ada ruang untuk berkembang, tidak ada kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, dan tidak ada penghargaan terhadap usaha untuk menjadi lebih baik.

Lantas, mana yang lebih baik: “pengebirian prestasi” atau “prestasi dikebiri”?

Jawabannya tentu saja: keduanya bukan sesuatu yang baik.

Di tengah tuntutan zaman yang semakin kompetitif, setiap orang justru dituntut untuk terus belajar, berkembang, berinovasi, dan menghasilkan prestasi. Dunia pendidikan pun seharusnya menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya potensi, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba.

Lalu, jika seseorang yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk berprestasi justru dipersulit, dibatasi, atau tidak diberikan ruang yang semestinya, bukankah itu merupakan sebuah kemunduran?

Kita hidup di zaman yang terus bergerak maju. Teknologi berkembang, ilmu pengetahuan bertambah, dan persaingan global semakin terbuka. Tetapi ironisnya, masih mungkin ditemukan pola pikir atau sistem yang justru membatasi seseorang untuk berkembang.

Apakah kita sedang hidup di zaman modern dengan cara berpikir yang masih terperangkap pada masa lalu?

Entahlah.

Namun, satu hal yang pasti: fenomena semacam itu bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Ia dapat muncul di mana saja, termasuk dalam dunia pendidikan—dunia yang seharusnya menjadi tempat paling subur bagi tumbuhnya prestasi.

Kalau memang harus memilih, barangkali “prestasi dikebiri” justru lebih “jujur” karena larangannya terlihat jelas. Pesannya terang: “Jangan berprestasi di sini.” Setidaknya seseorang mengetahui batas yang sedang dihadapinya.

Yang lebih mengkhawatirkan justru “pengebirian prestasi”. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk larangan terbuka. Ia dapat bekerja perlahan melalui sistem, aturan, kebijakan, atau perlakuan yang pada awalnya tampak biasa saja. Sedikit demi sedikit kesempatan dipersempit, motivasi dilemahkan, kreativitas dibatasi, hingga akhirnya seseorang berhenti berprestasi—bukan karena tidak mampu, tetapi karena lingkungan tidak lagi memberikan ruang yang cukup untuknya bertumbuh.

Dan di sinilah persoalannya menjadi serius.

Sebab, membatasi prestasi seseorang pada akhirnya bukan hanya membatasi individu, tetapi juga membatasi potensi yang seharusnya dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Seorang guru tentu berharap anak didiknya tumbuh menjadi manusia yang mampu memberikan manfaat. Seorang pendidik semestinya tidak hanya mengajarkan bagaimana mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga bagaimana mengembangkan potensi, berani bermimpi, bekerja keras, dan memberikan kontribusi bagi lingkungan.

Maka, janganlah kita menciptakan sistem yang membuat orang takut berprestasi. Jangan pula membuat orang merasa bahwa bekerja lebih baik, berinisiatif, dan menunjukkan kemampuan justru menjadi sesuatu yang harus dihindari.

Prestasi seharusnya dirawat, bukan dicurigai.
Potensi seharusnya dikembangkan, bukan dibatasi.
Dan orang yang ingin maju seharusnya didorong, bukan dipatahkan langkahnya.

Ah, sesekali bolehlah seorang guru biologi belajar menjadi “guru bahasa Indonesia”—mencoba membaca makna kata bukan hanya secara denotatif, tetapi juga secara konotatif. Sebab, dunia biologi memang mengajarkan kepastian: jika salah, ya salah; jika benar, ya benar. Tetapi kehidupan sosial terkadang tidak sesederhana itu.

Namun, mungkin justru di situlah menariknya.

Jika yang benar dikatakan benar dan yang salah dikatakan salah, itu namanya ilmu pasti. Jadi, kalau memang ingin bermain dengan kata-kata, sesekali bermainlah dengan makna. Tetapi untuk urusan prinsip, barangkali tetap lebih baik berpegang pada yang pasti-pasti saja.

— Sekelumit catatan seorang guru, 1 Mei 2009