23 Oktober 2008

Sistem rangka manusia


PENDAHULUAN
Sistem rangka melakukan banyak fungsi penting diantaranya menyusun bentuk tubuh, perlindungan, gerakan tubuh, membentuk sel-sel darah, dan tempat penyimpanan mineral.

FUNGSI
- Rangka tubuh manusia dibentuk oleh tulang-tulang yang berjumlah 206 buah, membentuk kerangka yang kaku dengan jaringan-jaringan dan organ-organ yang melekat padanya
- Sistem rangka melindungi organ-organ vital seperti otak yang dilindungi oleh tulang tengkorak, paru-paru dan jantung dilindungi oleh tulang dada dan tulang rusuk
- gerakan tubuh terbentuk dari kerjasama antara sistem rangka dengan otot, oleh sebab itu keduanya sering dikelompokkan menjadi satu nama yaitu sistem musculo-skeletal
- rangka merupakan tempat melekatnya otot melalui perantaraan tendon. Antara tulang yang satu dengan tulang yang lain dikaitkan dengan perantaraan ligamen. Hubungan antara dua tulang disebut sendi
Sendi
atau artikulasi adalah hubungan antara dua tulang. berdasarkan gerakannya sendi dibedakan menjadi 3 jenis: sendi mati, sendi kaku dan sendi gerak
Sendi mati (sinarthrosis), karakter dari sendi ini adalah hubungan antara tulang yang satu dengan tulang yang lain sangat dekat, dan hanya dipisahkan oleh serabut jaringan ikat. Sendi sinarthrosis ini terdapat pada hubungan antara tulang-tulang tengkorak yang dikaitkan oleh sutura
Sendi kaku (Amfiathrosis), karakterisitik dari sendi ini adalah tulang-dengan tulang dihubungkan oleh tulang rawan hialin. Contoh sendi ini terdapat pada hubungan antara tulang rusuk dengan tulang dada yang dihubungkan oleh tulang rawan hialin.
Sendi gerak (Diarthrosis), sebagian besar sendi yang terdapat dalam tubuh manusia adalah sendi gerak. Terdapat enam jenis sendi yang termasuk sendi gerak yaitu:
1. Sendi engsel
Pada sendi engsel, kedua ujung tulang berbentuk engsel dan berporos satu. gerakannya
hanya satu arah seperti gerak engsel pintu. Contoh sendi pada siku (hubungan antara tulang
humerus/lengan atas dengan tulang radius ulna/pengumpil hasta, dan hubungan antara
tulang femur/paha dengan tulang tibia fibula /kering betis) sendi pada mata kaki, dan sendi
antar ruas jari
2. Sendi putar
Pada sendi putar, ujung tulang satu mengitari ujung tulang lain. Bentuk seperti ini memung-
kinkan gerakan rotasi dengan satu poros. Contoh sendi antara tulang hasta/ulna dengan
tulang pengumpil/radius
3. Sendi Pelana atau sendi sela
Pada sendi pelana, kedua ujung tulang membentuk sendi berbentuk pelana dan berporos dua,
tetapi dapat bergerak lebih bebas seperti gerakan orang naik kuda. Contoh sendi antara
tulang telapak tangan dengan tulang pergelangan tangan.
4. Sendi kondiloid atau elipsoid
Sendi kondiloid memungkinkan gerakan berporos dua dengan gerakan ke kiri dan ke kanan,
ke depan dan ke belakang. Ujung tulang yang satu berbentuk oval dan masuk kedalam suatu
lekuk berbentuk elips. Contoh sendi antara tulang pengumpil dengan tulang pergelangan
tangan
5. Sendi peluru
Pada sendi peluru, kedua ujung tulang berbentuk lekuk dan bonggol. Bentuk ini
memungkinkan gerakan bebas ke segala arah dan dapat berporos tiga. Contoh sendi antara
tulang humerus/lengan atas dengan tulang gelang bahu, dan sendi antara tulang gelang
panggul dengan tulang femur /paha
6. Sendi luncur
Pada sendi ini, kedua ujung tulang agak rata sehingga menimbulkan gerakan menggeser dan
tidak berporos. Contoh sendi antar tulang pergelangan tangan, antar tulang pergelengan kaki,
antar tulang selangka, dan antar tulang belikat

Otot yang menyebabkan pergerakan sendi, melakat pada dua buah tulang yang berbeda dengan perantaraan tendon.Contoh otot melekat pada satu ujung di pangkal tulang humerus, dan ujung lainnya melekat pada tulang pengumpil hasta. Jika otot bisep berkontraksi, maka otot trisep relaksasi. Aktivitas kedua jenis otot ini menimbulkan gerakan menekuk di siku-siku. Jika otot trisep berkontraksi dan otot bisep relaksasi, aktivitas kedua otot tersebut meluruskan kembali lengan.
Sel-sel darah merah (eritrosist) diproduksi di sumsum tulang. Setiap menit dihasilkan rata-rata 2,6 juta sel darah merah baru untuk menggantikan sel darah merah yang telah tua dan dihancurkan di hati.
Tulang merupakan tempat penyimpanan mineral seperti kalsium dan pospor. bila kadar mineral dalam darah tinggi maka akan disimpan di sumsum tulang, demikian sebaliknya bila kadar mineral dalam darah kurang maka akan diambil dari cadangan mineral yang ada dalam tulang
PEMBAGIAN RANGKA TUBUH MANUSIA
Rangka tubuh manusia dikelompokkan atas dua bagian yaitu:
A. Skeleton aksial
Terdiri atas sekelompok tulang yang menyusun poros tubuh dan memberikan dukungan dan perlindungan pada organ di kepala, leher dan badan
Skeleton aksial terdiri dari:
  1. Tulang Tengkorak
  2. Tulang dada
  3. Tulang rusuk
  4. ruas-ruas tulang belakang
Tulang Tengkorak Tulang-tulang tengkorak merupakan tulang yang menyusun kerangka kepala. Tulang tengkorak tersusun atas 8 buah tulang yang menyusun kepala dan empat belas tulang yang menyusun bagian wajah. tulang tengkorak bagian kepala merupakan bingkai pelindung dari otak.
Jenis-jenis tulang tengkorak adalah:

1. Tulang tengkorak bagian kepala terdiri dari:
  • bagian parietal --> tulang dahi
  • bagian temporal --> tulang samping kiri kanan kepala dekat telinga
  • bagian occipitas --> daerah belakang daritengkorak
  • bagian spenoid --> berdekatan dengan tulang rongga mata, seperti tulang baji
  • bagian ethmoid --> tulang yang menyususn rongga hidung
Sendi yang terdapat diantara tulang-tulang tengkorak merupakan sendi mati yang disebut sutura.
2, Tulang tengkorak bagian wajah terdiri dari:
  • rahang bawah --> menempel pada tulang tengkorak bagian temporal. hal tersebut merupakan satu-satunya hubungan antar tulang dengan gerakan yang lebih bebas
  • Rahang bawah --> menyusun sebagian dari hidung, dan langit-langit
  • palatinum (tulang langit0langit) --> menyusun sebagian dari rongga hidung dan bagian atas dari atap rongga mulut
  • zigomatik --> tulang pipi
  • tulang hidung
  • Tulang lakrimal --> sekat tulang hidung
Tulang dada
Tulang dada termasuk tulang pipih, terletak di bagian tengah dada. pada sisi kiri dan kanan tulang dada terdapat tempat lekat dari rusuk. bersama-sama dengan rusuk, tulang dada memberikan perlindungan pada jantung, paru-paru dan pembuluh darah besar dari kerusakan
Tulang dada tersusun atas 3 tulang yaitu:
  • tulang hulu / manubrium. terletak di bagian atas dari tulang dada, tempat melekatknya tulang rusuk yang pertama dan kedua
  • Tulang badan / gladiolus, terletak dibagian tengah, tempat melekatnya tulang rusuk ke tiga sampai ke tujuh, gabungan tulang rusuk ke delapan sampai sepuluh.
  • Tulang taju pedang / xiphoid process, terletak di bagian bawah dari tulang dada. Tulang ini terbentuk dari tulang rawan
Tulang Rusuk
Tulang rusuk berbentuk tipis, pipih dan melengkung. bersama-sama dengan tulang dada membentuk rongga dada untuk melindungi jantung dan paru-paru. Tulang rusuk dibedakan atas tiga bagian yaitu:
  • Tulang rusuk sejati berjumlah tujuh pasang. Tulang-tulang rusuk ini pada bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang sedangkan ujung depannya berhubungan dengan tulang dada dengan perantaraan tulang rawan
  • Tulang rusuk palsu berjumlah 3 pasang. Tulang rusuk ini memiliki ukuran lebih pendek dibandingkan tulang rusuk sejati. Pada bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang sedangkan ketiga ujung tulang bagian depan disatukan oleh tulang rawan yang melekatkannya pada satu titik di tulang dada
  • Rusuk melayang berjumlah 2 pasang. Tulang rusuk ini pada ujung belakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang, sedangkan ujung depannya bebas.
Tulang rusuk memiliki beberapa fungsi diantaranya 1). melindungi jantung dan paru-paru dari goncangan. 2). melindungi lambung, limpa dan ginjal. 3). membantu pernapasan. 4).

Ruas-ruas tulang belakang
Ruas-ruas tulang belakang disebut juga tulang belakang disusun oleh 33 uah tulang dengan bentuk tidak beraturan. ke 33 buah tulang tersebut terbagai atas 5 bagian yaitu:
  • tujuh ruas pertama disebut tulang leher. ruas pertama dari tulang leher disebut tulang atlas, dan ruas kedua berupa tulang pemutar atau poros. bentuk dari tulang atlas memungkinkan kepala untuk melakukan gerakan atau goyangan "ya" atau goyangan "tidak"
  • Dua belas ruas berikutnya membentuk tulang punggung. Ruas-ruas tulang punggung pada bagian kiri dan kanannya merupakan tempat melekatnya tulang rusuk
  • Lima ruas berikutnya merupakan tulang pinggang. Ukuran tulang pinggang lebih besar dibandingkan tulang punggung. Ruas-ruas tulang pinggang menahan sebagian besar berat tubuh dan banyak melekat otot-otot
  • Lima ruas tulang kelangkangan (sacrum), yang menyatu, berbentuk segitiga terletak dibawah ruas-ruas tulang pinggang.
  • bagian bawah dari ruas-ruas tulang belakang disebut tulang ekor (coccyx), tersusun atas 3 sampai dengan 5 ruas tulang belakang yang menyatu.
Ruas-ruas tulang belakang berfungsi untuk menegakkan badan dan menjaga keseimbangan. menyokong kepala dan tangan, dan tempat melekatnya otot, rusuk dan beberapa organ

B. Skeleton apendikular
Tersusun atas tulang tulang yang merupakan tambahan dari skeleton axial. Skeleton axial terdiri dari :
  • Anggota gerak atas
  • anggota gerak bawah
  • gelang panggung
  • bagian akhir dari ruas-ruas tulang belakang seperti sakrum dan tulang coccyx
Tulang anggota gerak atas (extremitas superior)
Tulang penyusun anggota gerak atas tersusun atas:
  1. Humerus / tulang lengan atas. Termasuk kelompok tulang panjang /pipa, ujung atasnya besar, halus, dan dikelilingi oleh tulang belikat. pada bagian bawah memiliki dua lekukan merupakan tempat melekatnya tulang radius dan ulna
  2. Radius dan ulna / pengumpil dan hasta. Tulang ulna berukuran lebih besar dibandingkan radius, dan melekat dengan kuat di humerus. Tulang radius memiliki kontribusi yang besar untuk gerakan lengan bawah dibandingkan ulna.
  3. karpal / pergelangan tangan. tersusun atas 8 buah tulang yang saling dihubungkan oleh ligamen
  4. metakarpal / telapak tangan. Tersusun atas lima buah tangan. Pada bagian atas berhubungan dengan tulang pergelangan tangan, sedangkan bagian bawah berhubungan dengan tulang-tulang jari (palanges)
  5. Palanges (tulang jari-jari). tersusun atas 14 buah tulang. Setiap jari tersusun atas tiga buah tulang, kecuali ibu jari yang hanya tersusun atas 2 buah tulang.
Tulang anggota gerak atas (ekstremitas inferior)
Tulang anggota gerak bawah disusun oleh tulang:
  1. Femur / tulang paha. Termasuk kelompok tulang panjang, terletak mulai dari gelang panggul sampai ke lutut.
  2. Tibia dan fibula / tulang kering dan tulang betis. Bagian pangkal berhubungan dengan lutut bagian ujung berhubungan dengan pergelangan kaki. Ukuran tulang kering lebih besar dinandingkan tulang betis karena berfungsi untuk menahan beban atau berat tubuh. Tulang betis merupakan tempat melekatnya beberapa otot
  3. Patela / tempurung lutut. terletak antara femur dengan tibia, bentuk segitiga. patela berfungsi melindungi sendi lutut, dan memberikan kekuatan pada tendon yang membentuk lutut
  4. Tarsal / Tulang pergelangan kaki. Termasuk tulang pendek, dan tersusun atas 8 tulang dengan salah satunya adalah tulang tumit.
  5. Metatarsal / Tulang telapak kaki. Tersusun atas 5 buah tulang yang tersesun mendatar.
  6. Palanges / tulang jari-jari tangan. Tersusunetiap jari tersusun atas 3 tulang kecuali tulang ibu jari atas 14 tualng.
Tulang gelang bahu (klavikula dan scapula / belikat dan selangka)
Tulang gelang bahu disebut juga tulang pectoral bahu tersusun atas 4 buah tulang yaitu 2 tulang belikat (skapula) dan 2 tulang selangka ( klavikula).
Tulang selangka berbentuk seperti huruf "S", berhubungan dengan tulang lengan atas (humerus) untuk membentuk persendian yang menghasilkan gerakan lebih bebas, ujung yang satu berhubungan dengan tulang dada sedangkan ujung lainnya berhubungan dengan tulang belikat.
Tulang belikat (skapula) berukuran besar, bentuk segitiga dan pipih, terletak pada bagian belakang dari tulang rusuk.
Fungsi utama dari gelang bahu adalah tempat melekatnya sejumlah otot yang memungkinkan terjadinya gerakan pada sendi

Gelang Panggul
Tulang gelang panggul terdiri atas dua buah tulang pinggung. Pada anak anak tulang pinggul ini terpisah terdiri atas tiga buah tulang yaitu illium (bagian atas), tulang ischiun (bagian bawah) dan tulang pubis (di bagian tengah). (Lihat gambar)
Dibagian belakang dari gelang panggul terdapat tulang sakrum yang merupakan bagian dari ruas-ruas tulang belakang. Pada bagian depan terdapat simfisis pubis merupakan jaringan ikat yang menghubungkan kedua tulang pubis.
Fungsi gelang panggung terutama untuk mendukung berat badan bersama-sama dengan ruas tulang belakang. melindungi dan mendukung organ-organ bawah, seperti kandung kemih, organ reproduksi, dan sebagai tempat tumbuh kembangnya janin.


JENIS TULANG
Jenis tulang yang menyusun tubuh manusia secara umum dibedakan atas 4 kelompok yaitu:
  • Tulang panjang : terdapat pada t. lengan atas (humerus), t. radius / pengumpil, t. ulna / hasta, t. metakarpal / telapak tangan
  • Tulang pendek: terdapat pada tulang pergelangan tangan dan pergelangan kaki
  • Tulang pipih : terdapat pada tulang rusuk, t. dada, t. tengkorak, dan gelang bahu
  • Tulang tidak beraturan: terdapat pada beberapa tulang tengkorak, dan ruas-ruas tulang belakang.
STRUKTUR TULANG
Tulang keras memiliki dua macam bentuk yaitu tulang kompak yang padat dan keras dan tulang spons yang berlubang-lubang dan rapuh. Tulang kompak bentuknya padat, keras dan membentuk perlindungan luar untuk jaringan tulang lainnya.
Tulang spons terletak di bagian dalam dari tulang kompak, rapuh dan memiliki banyak pori atau rongga-rongga. tulang spons terdapat pada ujung-ujung dari tulang kompak.
Jaringan tulang disusun oleh beberapa bentuk sel tulang, yang terdapat dalam cairan ekstraseluler (matriks) berupa garam-garam anorganik (sebagain besar berupa kalsium dan fosfor). garam-garam organik inilah yang memberikan kekuatan pada tulang dan serabut kolagen yang memberikan sifat elastis pada tulang.

SEL TULANG
Ada lima jenis sel tulang dalam jaringan tulang, yaitu:
  • Sel Osteogenik: yang memberikan tanggapan terhadap trauma, seperti fraktura (patah tulang). Sel ini memberikan perlindingan pada tulang dan membentuk sel-sel baru, sebagai pengganti sel-sel yang rusak
  • Sel osteoblast: merupakan sel-sel pembentuk sel tulang. Cel ini melakukan kegiatan sintesis dan sekresi mineral-mineral keseluruh subtansi dasar dan subtansi pada daerah yang memiliki kecepatan metabolisme yang tinggi
  • Sel osteosit: merupakan sel tulang dewasa yang terbentuk dari sel osteoblas. Sel-sel tulang ini membentuk jaringan tulang disekitarnya. Sel osteosit memelihara kesehatan tulang, menghasilkan enzim dan mengendalikan kandungan mineral dalam tulang, juga mengontrol pelepasan kalsium dari tulang ke darah.
  • Sel osteoklas: merupakan sel tulang yang besar, berfungsi untuk menghancurkan jaringan tulang. Sel osteoklas berperan penting dalam pertumbuhan tulang, penyembuhan, dan pengaturan kembali bentuk tulang
  • sel pelapis tulang: dibentuk oleh osteoblas disepanjang permukaan tulang orang dewasa. sel tulang ini mengatur pergerakan kalsiun dan fosfat dari dan kedalam tulang.

OSIFIKASI
Osifikasi adalah proses pembentukkan tulang keras dari tulang rawan (kartilago). Ada dua jenis osifikasi yaitu osifikasi intramembran dan osifikasi endokondral. Tulang keras dapat terbentuk baik melalui proses osifikasi intamembran, osifikasi endokondral atau kombinasi keduanya.
osifikasi intra membran berasal dari mesenkim yang merupakan cikal bakal dari tulang.
pada proses perkembangan hewan vertebrata terdapat tiga lapisan lembaga yaitu ektoderm, medoderm, dan endoderm. mesenkim merupakan bagian dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal langsung dari sel-sel mesenkim melalui proses osifikasi intramembran.
Osifikasi endokondral adalah pergantian tulang rawan menjadi tulang keras selama proses pertumbuhan. proses osifikasi ini bertanggung jawab pada pembentukkan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang (osteoblas) aktif membelah dan muncul dibagian tengah dari tulang rawan yang disebut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya berubah menjadi osteosit, sel-sel tulang dewasa ini tertanam dengan kuat pada matriks tulang.
Sebagian besar tulang juga dapat terbentuk dari gabungan osifikasi intramembran dan osifikasi endokondral. pada proses ini sel mesenkim berkembang menjadi kondroblast yang aktif membelah. sel-sel kondroblas yang besar mensekresikan matriks yang berupa kondrin. kondroblas berubah menjadi osteoblas yang menghasilkan osteosit dan menghasilkan mineral untuk membentuk matriks tulang.
Tulang keras dewasa merupakan jaringan hidup yang tersusun atas komponen organik dan komponen mineral. Komponen organik terdiri atas protein berupa serabut kolagen, matriks ekstraseluler dan fibroblast, dengan sel-sel hidup yang menghasilkan kolagen dan matriks.
komponen mineral tersusun atas kalsium karbonat yang memberikan kekuatan dan kekakuan pada tulang. Selama kehidupan individu, osteoblas terus mensekresikan mineral, sedangkan osteoklast terus mengabsorb mineral. pasien rawat inap dan astronot, tulangnya serikali rapuh disebabkan proses reabsorbsi oleh osteoklast lebih cepat dibandingkan proses sekresi oleh osteoblast.
Tulang-tulang orang yang telah berumur rapuh disebabkan komponen mineral dalam tulang tersebut mulai menurun produksinya.

TUGAS RANGKA MANUSIA UNTUK KELAS XI IPA 1 - 3 DOWNLOAD DISINI

27 September 2008

Naskah National Innovative Teacher Competition 2008

Teman-teman, ini naskah PTK yang aku ikutkan dalam Lomba NITC kemarin di yogyakarta. Silakan dipelajari, mudah-mudahan bisa mengikuti ajang serupa tahun depan
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran konsep keanekaragaman hayati menurut kurikulum 2006 bertujuan mengembangkan kompetensi siswa dalam mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis dan ekosistem melalui kegiatan pengamatan dan mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia dan upaya pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam.
Sistem pembelajaran yang baik menurut Johnson (2002) adalah pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya atau yang dikenal dengan Contextual Teaching and Learning (CTL). Hal tersebut akan membantu siswa mengembangkan diri secara optimal, dan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat mengakomodasikan pengetahuannya dari pengalaman yang dimilikinya.
Namun sayang sistem pembelajaran tersebut sulit dilaksanakan disebabkan sumber belajar yang berupa lingkungan yang ideal dan bentuk-bentuk variasi pada makhluk hidup jarang dan bahkan sulit di temukan. Apalagi jika sekolah berada pada lingkungan perkotaan, pembelajaran konsep keanekaragaman hayati berupa observasi langsung ke lingkungan tidak mungkin lagi dilakukan.
Sementara itu aktivitas pembelajaran dalam bentuk observasi di lingkungan, tidak semua siswa terlibat dan waktu yang digunakan tidak sebanding dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sebagai guru dituntut untuk bisa mendesain dan merancang suatu proses pembelajaran yang dapat mengatasi kendala-kendala yang terjadi dalam proses pembelajaran.
B. Tindakkan Yang Dipilih
Penggunaan media pembelajaran berbasis TIK dalam pembelajaran konsep keanekaragaman hayati diantaranya; memperjelas konsep agar tidak terlalu verbalistis, mengatasi hambatan ruang, waktu dan daya indra, mengatasi keterbatasan variasi bentuk lingkungan dan organisme yang dapat diamati, mengatasi sikap pasif siswa menjadi lebih bergairah, melibatkan seluruh warga belajar, dan mengkondisikan munculnya persamaan persepsi dan pengalaman belajar siswa.
Sebagaimana pendapat dari gagne, media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar, sedangkan menurut AECT media adalah bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Dengan demikian media merupakan alat untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke peneroma sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses berlajar menngajar terjadi.
Proses pembelajaran konsep keanekaragaman hayati melalui media pembelajaran berbasis TIK akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran, munculnya ketrampilan bekerja sama (kooperatif) siswa dalam kelompok belajarnya serta adanya peningkatan hasil belajar siswa.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas maka ditarik suatu rumusan masalah yaitu : “Apakah pembelajaran kooperatif berbasis TIK dapat meningkatkan kualitas pembelajaran konsep keanekaragaman hayati?”
D. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Memberikan suatu sistem penyajian materi biologi pada konsep keanekaragaman hayati yang representatif dan berdiskusi untuk memahami konsep tersebut.
2. Merancang suatu pembelajaran yang dapat melibatkan seluruh siswa secara aktif, sehingga tercipta iklim belajar yang kondusif.
3. Memberikan informasi pembelajaran konsep keanekaragaman hayati dengan menggunakan media pembelajaran berbasis TIK
4. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa pada konsep keanekaragaman hayati
E. Lingkup Penelitian
Penelitian dilakukan dikelas XC dengan waktu penelitian 3 x 4 minggu, pada konsep keanekaragaman hayati. Diawali dengan melakukan pre test, pemberian materi dengan menggunakan media pembelajaran berbasis TIK, yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi kelompok dengan menggunakan LKS dan diakhiri dengan post test
F. Signifikansi Hasil Peneltian
1. Bagi siswa, yaitu:
a. Dapat meningkatkan aktivitas dan ketrampilan bekerja sama dalam pembelajaran konsep keanekaragaman hayati
b. Dapat membuktikan konsep dan sub konsep keanekaragaman hayati melalui kegiatan pengamatan dan observasi
c. Dapat mendeskripsikan peranan keanekaragaman hayati di muka bumi
2. Bagi guru
a. Dapat membimbing dan memotivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar pada konsep keanekaragaman hayati.
b. Dapat mengatasi kendala dalam pembelajaran dan mencari solusi dalam mengatasi kendala tersebut.
BAB II PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A. Setting Penelitian
Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas X-C SMA YPVDP BONTANG, dengan jumlah siswa sebanyak 34 orang. Penelitian dilaksanakan pada semester II tahun pembelajaran 2007/2008, dengan waktu pelasanaan selama 1 bulan yaitu Maret 2008.
B. Prosedur Penelitian
1. Gambaran Umum Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan pelaksaan kolaboratif antara pengamat dengan peneliti sebagai pelaku tindakan. Adapun langkah penelitiannya bersifat refleksi tindakan dengan pola “proses Pengkajian Berdaur (Siklus)”. Langlah ini berulang-ulang yang terdiri dari Perencanaan – Tindakan – Observasi – Refleksi.
Pelaksanaan tindakan sebanyak tiga siklus dan tahap penelitian digambarkan sebagai berikut:
`
Gambar 1: Spiral Penelitian Tindakan Kelas (Adaptasi Hopkins, 1993)
2. Rincian Prosedur Penelitian
a. Persiapan Tindakan
Persiapan yang harus dailakukan sebelum pelaksanaan tindakan adalah menyiapkan perangkat pembelajaran sebagai berikut:
a. Menyusun skenario pembelajaran untuk sub konsep sebagai berikut: konsep keanekaragaman hayati, keanekaragaman gen, jenis dan ekosistem, nilai-nilai keanekaragaman hayati, dan keunikan keanekaragaman hayati dan peran keanekaragaman hayati bagi manusia, dengan metode ceramah, dan diskusi informasi.
b. Menyusun lembar kegiatan siswa pada sub konsep kehati, tingkatan kehati, nilai-nilai kehati dan keunikan kehati dan perannya bagi manusia
c. Membuat media pembelajaran berbasis TIK (tampak seperti gambar 2).
d. Menyiapakan lebar observasi untuk monitoring perhatian dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
e. Menyiapkan seperangkat soal tes / evaluasi untuk mengukur ketuntasan belajar sebagai bentuk gambaran penguasaan konsep keanekaragaman hayati.
Gambar 2: Media Pembelajaran konsep Keanekaragama Hayati berbasis TIK
b. Implementasi Tindakan
Hal-hal yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan tindakan adalah implementasi dari rencana yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam penelitian ini pelaksanaan tindakan per siklus adalah sebagai berikut:
a. Tindakan 1, yaitu pelaksanaan proses pembelajaran konsep keanekaragaman hayati melalui metode diskusi informasi, dimana peran guru sebagai pemberi informasi lebih dominan.
b. Tindakan 2, yaitu pelaksanaan proses pembelajaran konsep keanekaragaman hayati dengan metode diskusi informasi, dimana peran guru sebagai fasilitator, dan pembelajaran lebih ditekankan kepada siswa sebagai subyek belajar di kelompoknya.
c. Tindakan 3, yaitu pelaksanaan proses pembelajaran konsep keanekaragaman hayati melalui penggunaan media pembelajaran berbasis TIK yang dikolaborasikan dengan metode diskusi informasi. Adapun pelaksanaan praktik mengikuti petunjuk yang tertuang dalam lembar kegiatan (LKS 1, 2, 3 dan 4)
c. Pemantauan dan Evaluasi
Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, catatan lapangan dan review. Keabsahan data diperiksa dengan trianggulasi, yaitu dengan bantuan pengamat lain (Moleong, 1994). Alat dan teknik observasi atau pemantauan diantaranya meliputi:
1. Seperangkat skenario pembelajaran pada masing-masing sub konsep
2. Lembar kegiatan Siswa (LKS 1, LKS 2, LKS 3, dan LKS 4)
3. Instrumen monitoring aktivitas siswa dan ketrampilan bekerja sama (kooperatif) dalam proses pembelajaran
Catatan observasi tersebut dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan ketrampilan bekerja sama (kooperatif) di dalam proses pembelajaran, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur ketercapaian atau ketuntasan belajar siswa.
d. Analisis dan Refleksi
Data hasil penelitian dianalisis bersama mitra kolaborasi sejak penelitian dimulai, dikembangkan selama proses refleksi sampai penyusunan laporan. Teknik analisis data yang digunakan adalah model alur, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (Milles dan Huberman, 1989). Sedangkan hasil belajar siswa (evaluasi dianalisis berdasarkan ketuntasan belajar siswa.
Refleksi dilakukan berdasarkan hasil observasi yang berpijak pada indikator keberhasilan. Hasil refleksi selanjutnya digunakan untuk melakukan tindakan-tindakan berikutnya.
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Siklus ke-1
Dalam proses pembelajaran siklus ke-1, pengenalan konsep keanekaragaman hayati dan tingkatan keanekaragaman hayati dilakukan dengan metode diskusi-informasi di dalam kelas. Kedudukan siswa pada proses pembelajaran di kelompoknya sama sekali tidak aktif. Hal ini disebabkan guru lebih dominan. Keterampilan kooperatif (bekerja sama) antar siswa dalam kelompoknya sangat kecil, karena proses pembelajaran terpusat pada guru.
Selanjutnya, jika dilihat dari hasil prestasi belajar siswa di dalam menyelesaikan soal tes, hanya terdapat 12 orang siswa atau 37,5% yang telah mencapai ketuntasan di dalam belajarnya. Adapun data hasil penelitian pada dalam proses pembelajaran siklus ke-1 tampak seperti pada tabel 1.
Tabel 1 Data hasil penelitian proses pembelajaran siklus ke-1
No.
Kelompok
Jumlah Siswa
yang Aktif
Jumlah Siswa
yang Kooperatif
Jumlah Siswa yang Tuntas Belajar
1.
I
2
2
4
2.
II
1
2
2
3.
III
1
2
1
4.
IV
2
2
2
5.
V
1
2
3
6.
VI
1
2
0

Jumlah
8
12
12

Prosentase
25%
37,5%
37,5%
2. Siklus ke-2
Dalam proses pembelajaran siklus ke-2, pengenalan materi atau konsep nilai-nilai keanekearagaman hayati dilakukan dengan metode diskusi-informasi, akan tetapi lebih ditekankan pada kegiatan diskusi kelompok. Melalui metode ini ternyata siswa mulai tampak berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan proses pembelajaran lebih terpusat pada siswa. Namun demikian, ternyata masih terdapat beberapa siswa di dalam kelompoknya yang tampak belum aktif. Dengan demikian, tampak bahwa pemunculan keterampilan kooperatif (bekerja sama) diantara siswa di dalam kelompoknya belumlah optimal.
Selanjutnya, jika dilihat dari hasil prestasi belajar siswa di dalam menyelesaikan soal tes ada peningkatan, terdapat 18 orang siswa atau 56,3% yang mencapai ketuntasan dalam belajar. Adapun data hasil penelitian proses pembelajaran siklus ke-2 tampak seperti pada tabel 2.
Tabel 2 Data hasil penelitian proses pembelajaran siklus ke-2
No.
Kelompok
Jumlah Siswa
yang Aktif
Jumlah Siswa
yang Kooperatif
Jumlah Siswa yang Tuntas Belajar
1.
I
3
4
2
2.
II
2
2
3
3.
III
3
3
3
4.
IV
2
2
4
5.
V
3
3
4
6.
VI
2
2
2

Jumlah
15
16
18

Prosentase
46,9%
50%
56,3%
Pada siklus ke-2 ini, hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran dibandingkan pada siklus ke-1. Namun demikian, ternyata hanya terdapat sedikit peningkatan munculnya keterampilan kooperatif (bekerja sama) siswa di dalam kelompoknya.
Untuk lebih meningkatkan aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran dan pemunculan keterampilan kooperatif (bekerja sama) yang lebih optimal, perlu penggunaan media pembelajaran berbasis TIK dalam memahami konsep keanekaragaman hayati.
3. Siklus ke-3
Pada siklus ini diawali dengan penjelasan pendahuluan dari guru yang sifatnya sebagai pengantar sebelum siawa diajak untuk mencermati media pembelajaran berbasis TIK.
Melalui penggunaan media pembelajaran berbasis TIK pada konsep keanekaragaman hayati, ternyata siswa secara umum tampak berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan proses pembelajaran lebih terpusat pada siswa dan masing-masing siswa dituntut beraktifitas dalam kelompoknya terutama dalam menjalankan media pembelajaran. Disamping itu, keterampilan kooperatif (bekerja sama) siswa di dalam kelompoknya, sudah tampak optimal.
Selanjutnya, jika dilihat dari hasil prestasi belajar siswa di dalam menyelesaikan soal tes, ternyata terdapat 26 orang siswa atau 81,3% yang sudah mencapai ketuntasan di dalam belajarnya. Atau dengan kata lain, hanya terdapat 6 orang siswa atau 18,8% yang belum mencapai ketuntasan di dalam belajarnya. Adapun data hasil penelitian di dalam proses pembelajaran siklus ke-3 tampak seperti pada tabel 3.
Tabel 3 Data hasil penelitian proses pembelajaran siklus ke-3
No.
Kelompok
Jumlah Siswa
yang Aktif
Jumlah Siswa
yang Kooperatif
Jumlah Siswa yang Tuntas Belajar
1.
I
5
5
6
2.
II
5
5
4
3.
III
4
5
4
4.
IV
5
4
5
5.
V
4
5
4
6.
VI
4
4
3

Jumlah
27
28
26

Prosentase
84,4%
87,5%
81,3%
Pada siklus ke-3 ini, hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran dibandingkan pada siklus ke-1 dan siklus ke-2. Disamping itu, secara umum tampak pemunculan keterampilan kooperatif (bekerja sama) siswa di dalam kelompoknya sudah optimal. Dengan demikian pada akhir siklus ke-3 ini, hasil pembelajaran sudah mmenuhi harapan dan tujuan pembelajaran.

B. Hasil Iringan

Adapun perolehan nilai rata-rata prestasi belajar pada tiap siklus, tampak seperti pada table 4 berikut;
Tabel 4 Data prestasi belajar siswa pada tiap siklus
No.
Siklus
Perolehan Nilai
Rata-rata
1.
I
54,1
2.
II
61,5
3.
III
70,9
Berdasarkan tabel 4 terlihat adanya peninkatan aktivitas siswa dan ketrampilan bekerja sama (kooperatif). Dengan kata lain terdapat peningkatan daya serap yang dibuktikan dengan bertambahnya jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar yaitu 26 siswa atau 81.3% dari 32 orang siswa yang mengikuti prosespembelajaran (tindakan). Sebanyak 6 siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar selanjutnya diadakan remediasi.

C. Pembahasan

Dari hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran konsep keanekaragaman hayati dengan menggunakan media pembelajaran berbasis TIK, dapat meningkatkan aktivitas dan pemunculan keterampilan bekerja sama (kooperatif) siswa dalam kelompok belajarnya, serta peningkatan hasil belajar siswa. Adapun rekapitulasi data hasil penelitian ini tampak seperti pada table 5 berikut ini ;
Tabel 5 Rekapitulasi data hasil penelitian
Siklus
Aktivitas Siswa
Keterampilan Kooperatif
Ketuntasan Belajar
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%
I
8
25%
12
37,5%
12
27,5%
II
15
46,9%
16
50%
18
56,3%
III
27
84,4%
28
87,5%
26
81,3%
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1. Proses pembelajaran konsep keanekaragaman hayati dengan menggunakan media pembelajaran berbasis TIK dapat meningkatkan aktivtas siswa dan pemunculan keterampilan bekerja sama (kooperatif) siswa di dalam kelompok belajarnya.
2. Dengan meningkatnya aktivitas dan keterampilan bekerja sama (kooperatif) siswa di dalam proses pembelajarannya, berdampak pada meningkatnya prestasi belajar siswa.

B. Saran

1. Penggunaan media pembelajaran berbasis TIK dalam pembelajaran konsep keanekaragaman hayati masih ditemukan kendala yaitu masih minimnya bentuk-bentuk animasi yang dapat dapat membelajarkan siswa sambil bermain.
2. Agar Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini ditindaklanjuti oleh guru biologi yang lain, demi kesempurnaan proses dan hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, Diah. 2006, dkk. Biologi 1, SMA dan MA kelas X. Jakarta: Esis
Departemen Pendidikan Nasional 2007. Model-model Pembelajaran Matematikan dan Ilmu Pengetahuan alam. Dirjen Dikdasmen, Direktorat Pendidikan Luar Biasa.
Elliot, John. 1982. The Action Research Reader. Victoria : Deakin University Press.
http://www.pkn.wordpress. Kegiatan Pembelajaran dan Pemilihan Media Pembelajaran. Guru Pkn Belajar Menulis
Himawan, A. 1991. Statistika. Surakarta : UNS Press.
Hopkins, D. 1993. A Teacher Guide to Clasroom Research. Philadelpia : Open University Press.
Kemmis, S & Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Deakin University Press.
Milles, MB & Huberman, AM. 1984. Qualitative Data Analysis. Baverly Hills : Sage Publisher.
Pujianti, Sri. 2008. Menjelajah Dunia Biologi 1 untuk kelas X SMA/MA. Solo: Platinum.
Purwatiningsih. S. 2007. Biologi untuk SMA/MA kelas X. Surakarta: Pabelan Cerdas Nusantara
Riyanto, Y. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya : SIC
Biodata Peserta
National Innovative Teacher Competition 2008
1
Nama
Dra. Herfen Suryati
2
NIP/NIGB/NIY
127503
3
Jabatan
Guru
4
Pangkat/Gol. Ruang
-
5
Tempat dan tanggal lahir
Jakarta, 30 April 1967
6
Jenis Kelamin
Perempuan
7
Agama
Islam
8
Mata Pelajaran yang diajarkan
Biologi
9
Masa Kerja Guru
12 tahun
10
Judul Penelitian Pendidikan
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Berbasis TIK dalam Upaya Memperbaiki Kualitas Pembelajaran Konsep Keanekaragaman Hayati di Kelas X SMA YPVDP Bontang
11
Pendidikan terakhir
Sarjana
12
Fakultas/Jurusan
FPMIPA/Pendidikan Biologi
13
Status perkawinan
Kawin
14
Sekolah
a. Nama sekolah
b. Jalan
c. Kelurahan/Desa
d. Kecamatan
e. Kabupaten
f. Provinsi
g. Telepon
15
Rumah
a. Jalan
b. Kelurahan/Desa
c. Kecamatan
d. Kabupaten
e. Provinsi
f. Telepon
16
Kegiatan dalam masyarakat
Instruktur KIR se Kota Bontang
Pembina KIR SMA YPVDP
17.
Prestasi Guru
  1. Finalis Lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran dan bimbingan konseling tingkat nasional tahun 1996
  2. Juara 2 Lomba Kreativitas Guru LIPI-TVRI tingkat Nasional tahun 1997
  3. Juara 1 Lomba Karya tulis Imtaq tingkat Nasional tahun 2000
  4. Finalis Lomba Keberhasilan guru dalam pembelajaran tingkat Nasional tahun 2002
  5. Peserta terbaik satu Simposium Nasional tahun 2003. Bidang Biologi
  6. Peserta Simposium Nasional tahun 2004
  7. Penyaji materi di Simposium Nasional Olympiade Sains 2004
  8. Finalis Australian Education Centre tingkat Nasional tahun 2005
  9. Peraih Science Education Award (SEA) dari ITSF tahun 2005
  10. Juara 1 Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Bontang tahun 2005
  11. Juara 1 Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Propinsi tahun 2005
  12. Guru Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2005
  13. Juara 3 Pembuatan Media Pembelajaran berbasis TIK Tingkat nasional Tahun 2005
  14. Peraih Education Award untuk guru berprestasi / berjasa dari Gubernur Kalimantan Timur tahun 2005
  15. Juara 3 Pembuatan Media pembelajaran Berbasis TIK Tingkat Nasional Tahun 2006
  16. Peraih Education Award untuk Guru Berprestasi / berjasa dari Gubernur Kalimantan Timur tahun 2006
  17. Finalis lomba keberhasilan Guru dalam pembelajaran tingkat nasional tahun 2006
  18. peserta studi in malaysia yang diselenggarakan oleh disdik prov. kaltim tahun 2006
  19. Penyaji materi pada International Conference on Science Education tahun 2007
  20. Peraih Education award untuk guru berprestasi dan berjasa dari gubernur prov. kaltim
  21. Juara II National Innovative Teacher Competition tingkat nasional yang diselenggarakan oleh microsoft Indonesia dan ICT Watch, tahun 2008
  22. Juara I lomba pembuatan multimedia pembelajaran tingkat nasional tahun 2008

Bontang, 4 April 2008
Peserta Lomba
Herfen Suryati