25 Desember 2015

ESCHERICIA COLI DAN KERACUNAN MAKANAN

Escherichia coli (E. coli) adalah organisme yang menginfeksi paling populer dalam kelompok bakteri gram negatif dikenal sebagai enterobacteriaceae. Bakteri yang terdapat di usus besar (colon) manusia ditemukan pada tahun 1885 oleh seorang bakteriolog Jerman bernama Theodore Escherich. Dr. Escherich juga menunjukkan bahwa beberapa strain bakteri  bertanggung jawab pada diare dan gastroenteritis, sebuah penemuan kesehatan masyarakat yang penting. Awalnya bakteri ini dikenal dengan nama Bakteri coli, namun kemudian nama tersebut diubah menjadi Escherichia coli untuk menghormati penemunya Theodore Escherich.

E. coli sering dignakan sebagai media sangat baik untuk mempelajari organisme yang hidup bebas. Lebih dari 700 serotipe E. Coli telah teridentifikasi saat ini. Antigen tipe "O" dan "H" serta flagela, membedakan antara serotipe bakteri satu dengan serotip bakteri lainnya. Hal ini penting untuk diingat bahwa sebagian besar jenis E. coli tidak menyebabkan penyakit pada manusia. Memang benar, ada beberapa E. coli yang bermanfaat sementara beberapa bakteri E. coli lainnya penyebab infeksi saluran pencernaan seperti infeksi saluran kemih.

bakteri E.coli bertanggung jawab pada sejumlah keracunanan makanan dan minuman, karena bakteri ini menghasilkan toksin Shiga, yaitu racun yang hampir identik dengan racun yang dihasilkan oleh Shigella dysenteria. Serotipe bakteri E.coli yang terkenal menghasilkan toksin shiga adalah E.coli O157: H7. Toksin Shiga yang dihasilkan oleh E. coli (STEC) dapat menyebabkan 100.000 jenis penyakit dan menyebabkan kematian. Berdasarkan data yang diperoleh setiap tahunnya terdapat 90 orang warga Amerika Serikat yang meninggal akibat keracunan toksik shiga. Sebagian besar infeksi STEC dilaporkan di Amerika Serikat disebabkan oleh E. coli O157:H7.
Gambar 1 : a. E. Coli O157:H7 dan b. non-O157

E. COLI O157:H7
E. coli O157: H7 adalah salah satu dari ribuan serotipe Escherichia coli. Pengujian untuk membedakan E. coli O157 dengan E. coli lainnya disebut serotiping test. Sebuah teknik yang disebut multilocus varibel number of tandem repeat analysis (MLVA) digunakan untuk menentukan klasifikasi yang tepat dari bakteri, ketika sulit untuk membedakan antara isolat yang sangat mirip pola PFGE (Pulsed-field gel electrophoresis). PFGE adalah sejenis genetik fingerprinting yang digunakan untuk membandingkan bakteri E.coli O157:H7 dengan isolat lain.   E. coli O157: H7 pertama kali dikenali sebagai patogen pada tahun 1982, ketika dilakukan penelitian ketika terjadi wabah hemorrhagic colitis (wasir pada colon yang disebabkan E.coli) terkait dengan konsumsi hamburger dari restoran cepat saji.

Gambar 2 : 
Selain toksin shiga, bakteri coli O157: H7 juga menghasilkan faktor virulensi yang membantu penempelan dan kolonisasi bakteri di dinding usus dan yang dapat melisiskan (menghancurkan) sel darah merah dan membebaskan besi untuk mendukung metabolisme coli.
E. coli O157:H7 berevolusi menjadi E. coli serotipe O55: H7, yang menyebabkan diare non-berdarah. Bakteri E. coli O157: H7 merupakan organisme tanpa henti berevolusi,  mengalami bermutasi berkelanjutan dan menghasilkan karakteristik baru dari hasil mutasi yang dilakukannya, termasuk faktor virulensi yang membuat munculnya varian baru yang lebih berbahaya. kemungkinan munculnya bakteri patogen merupakan ancaman yang signifikan terhadap  kesehatan masyarakat. Meskipun makanan yang berasal dari sapi adalah penyebab utama dari kedua wabah dan kasus penyebaran E. Coli O157: H7, namun sejak tahun 1991 semanggi dan kecambah lobak, selada, dan bayam juga diketahui sebagai media penyebaran bakteri E.coli O157:H7. Media penyebaran lainnya adalah yogurt, daging asap kering, mayones, susu mentah yang tidak di pasteurisasi, dan hazelnut.
 E. Coli Non-O157 STEC
Escherichia coli (E. coli) bakteri dikelompokkan berdasarkan antigen  O dan antigen H (misalnya E. coli O157: H7, E. coli O26: H11) dan dikategorikan sebagai bakteri yang menghasilkan toksin Shiga. Selama bertahun-tahun, wabah STEC selalu dikaitkan dengan STEC O157. Ternyata wabah STEC tersebut disebabkan juga oleh bakteri E.coli non-O157. Bakteri ini juga menghasilkan toksin shiga, yang penyebarannya dari orang ke orang. Wabah keracunan makanan yang disebabkan oleh E.coli non-157 STEC mengenai lebih  4.000 orang dan menewaskan lebih dari 50 orang di Amerika Serikat.
SUMBER E. COLI
Dari mana E.coli berasal? Sebagian besar E.coli O157:H7 hidup di usus sapi, tapi ada juga yang hidup di usus ayam, rusa, domba, dan babi. Bakteri ini sulit diberantas karena adaptasinya di rentang suhu 44 oF – 111 oF tahan pada suhu dingin dan panas. Kebal terhadap kekeringan, dan tahan pada kondisi lingkungan asam. Hal ini merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat yang mudah menular dari orang satu ke orang yang lain.
INFEKSI DAN PENYEBARAN E.COLI
Daging sapi dan susu sapi merupakan medium pertumbuhan bakteri coli O157:H7 dan non O157 yang baik untuk menghasilkan racun shiga. Produk susu dari sapi perah merupakan bahan makanan yang potensial untuk terkontaminasi bakteri E.coli selain itu daging sapi perah inipun ikut terkontaminasi bakteri ini.

GEJALA INFEKSI E.COLI
Apa saja tanda dan gejala infeksi keracunan toksik shiga yang dihasilkan oleh E.coli? Kolitis (radang pada kolon) disebabkan oleh Escherichia coli (E. coli) O157: H7 yang ditandai dengan kejang pada perut, diare yang disertai darah dalam waktu 24 jam, dan kadang-kadang juga di ikuti dengan demam.
Periode inkubasi dari awal paparan sampai munculnya gejala biasanya antara 3 – 4 hari, dan paling cepat 1 hari. Infeksi ini menyerang berbagai usia, terutama anak-anak.
 E.coli menginfeksi tubuh manusia melalui makanan yang telah terkontaminasi, dengan cepat berkembang biak dalam usus besar kemudian menempel dengan erat pada dinding bagian dalam usus. Penempelan ini mempermudah absorbsi toksik shiga ke dalam pembuluh darah kapiler kemudian racun ini berikatan lemah dengan leukosit. Hal inilah yang menimbulkan radang (kolitis) yang disebabkan oleh toksik shiga, yaitu kram pada perut, diare dan demam. infeksi lebih lanjut menyebabkan feses semakin encer dan bercampur dengan darah segar dan muntah-muntah. Infeksi coli dapat juga menyebabkan nekrosis usus (kematian jaringan) dan kerusakan usus (wasir usus). infeksi coli menyebabkan gagal ginjal akut pada bayi dan anak-anak.
KOMPLIKASI DARI INFEKSI E.COLI : SINDROM UREMIK HEMOLITIK
Penyakit komplikasi berbahaya yang disebabkan oleh bakteri E. Coli berupa sindrom uremik hemolitik. Sindrom ini merupakan gangguan heterogen dengan gejala klinis yang beragam, mulai dari anemia hemolitik mikroangiopati, trombositopeni dan gagal ginjal akut. Pada fase akut merupakan penyakit yang serius dan memerlukan penanganan yang intensif guna mencegah penderita terhindar dari bahaya kematian atau kerusakan fungsi ginjal.
MENCEGAH INFEKSI E.COLI
Apa yang harus kita lakukan untuk mecegah terinfeksi dari bakteri ini? Toksik shiga yang mudah menyebar dari hewan ke manusi atau dari manusia ke manusia, oleh sebab itu kita harus melindungi diri kita dengan cara:
1. Berhati-hati membeli produk makanan dan minuman olahan daging sapi ayau susu sapi
2. Mencuci bersih semua sayuran, buah-buahan impor atau domestik. Untuk sayuran yang yahan panas, sebaiknya dengan dipanaskan terlebih dahulu, untuk buah dan sayuran lain sebelum dimakan sebaiknya direndam terlebih dahulu dalam air klor selama 15 menit kemudian dicuci bersih sebelum dimakan
3. Peralatan yang digunakan seperti talenan sebaiknya dicuci bersih untuk menghindari kontaminasi E.coli pada bahan makanan lain.
4. Jangan biarkan anak-anak mandi atau dimandikan oleh seseorang yang terserang diare.
5. Jangan biarkan tangan anak-anak untuk menyentuh hewan peliharaan, atau bersihkan tangan setelah menyentuh hewan peliharaan
6. Gunakan sarung tangan sekali pakai, untuk mengganti popok anak yang mengalami diare. Atau mencuci tangan bersih-bersih setelah mengganti popok
Hindari minum air yang belum di sterilisasi dengan klor

Tidak ada komentar: